Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.

Paskah baru saja berlalu, Kebangkitan Tuhan sudah terjadi dan kita merasakan kesukacitaan yang amat besar ketika Perayaan Paskah bisa dilakukan secara onsite di setiap gereja setelah masa Pandemi. Kubur Yesus kosong dan membuat seluruh murid Yesus tidak memahami apa yang telah terjadi karena kebingungan yang dialami oleh dua orang murid Yesus sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke kota mereka di Emaus, mereka pergi untuk rekonsiliasi dengan diri sendiri juga keadaaan yang membuat mereka untuk terus menghayati arti dari pelayanan para murid ke depannya dengan yakin dan teguh.
Tema “Memaknai Ingatan dan Menghayati Kebangkitan”, merupakan langkah penting dalam mencapai titik Rekonsiliasi, yang menarik bukan terletak pada pada fakta bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit, melainkan makna Kehadiran-Nya dan kuasa-Nya kepada kita sebagai orang percaya dan Dialah sumber pengharapan bagi kehidupan setiap kita.

Kita, mungkin tidak jauh beda dengan para murid kala itu, mereka seakan hilang harapan karna Yesus pergi meninggalkan mereka, dan ketika mereka kembali berjumpa dengan Yesus bersukacitalah mereka, seakan-akan mereka menemukan kembali pengharapan dan sang sumber kehidupan mereka.
Saat harapan dan kenyataan tidak sesuai, saat bahan bakar semangat kehidupan dalam tubuh jiwa kita hampir habis, dan juga ketika kita mulai ragu akan kuasa Tuhan mungkin kita akan mulai berfikir saatnya berhenti.
Lalu setelah hal itu terjadi apa yang kita lakukan, bagaimana kehidupan kita selanjutnya dengan berjalannya kehidupan kita (yang sudah mulai patah arang) lalu bagaimana pula kehidupan yang mempengaruhi kita di dalam bermasyarakat, lingkungan di mana kita ada, apakah kita dapat menjadi berkat? Atau malah kehadiran kita malah membuat segala sesuatu menjadi kacau dengan keegoisan, temperamental dan ucapan lisan kita yang melukai hati sesama kita baik di keluarga, lingkungan kerja bahkan sesama teman atau rekan sepelayanan kita. Ingatlah, kehidupan kita akan mempengaruhi kehidupan orang di sekitar kita untuk itu rendah hatilah.

Saat ini, apa yang kita rasakan setelah kita melakukan serangkaian masa raya paskah hingga Kebangkitan-Nya? Apakah hidup kita masih hidup sebagai manusia ciptaan-Nya yang biasa-biasa saja, rutinitas yang kita lakukan hanya sebagai hal yang biasa dan bukan sebagai ungkapan syukur, bahkan tidak bertanggung jawab atas tugas pekerjaan serta pelayanan kita? Sehingga tidak ada semangat dalam memaknai kebangkitan Kristus, tidak ada semangat berjuang untuk mencapai suatu hal yang lebih baik karena kita masih menjadi manusia lama dan tidak mau berusaha menjadi manusia ciptaan yang baru.
Mari Jemaat Tuhan, semangat dalam menjalani hari-hari ke depan, mari kita cari lagi penyemangat hidup kita, yaitu carilah Tuhan yang telah berkorban bagi kita di atas kayu salib, dan Dia pulalah yang telah setia dalam melakukan semua yang telah Dia janjikan dalam kehidupan kita.

Selamat berjuang, terus semangat, selamat menghayati kembali akan arti kebangkitan-Nya, tetaplah setia dan mau belajar untuk rendah hati sehingga kita terus diperbaharui sehingga kita dimampukan, dilayakkan dan dipakai-Nya menjadi alat Kemuliaan-Nya dalam kehidupan kita setiap hari.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati. [PNY]