“Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!“
Setelah melewati masa pandemi hampir tiga tahun, Pemerintah Indonesia bisa dikatakan berhasil dengan berbagai macam cara untuk menekan jumlah masyarakat yang terpapar virus covid. Dan saat ini pemerintah sedang mempersiapkan pemimpin untuk lima tahun ke depan, melalui partai-partai politik yang sedang mengajukan dan diseleksi oleh penyelenggara Pemilu. Berbagai macam jurus dan strategi sudah dipersiapkan untuk berkompetisi dan menang pada Pemilu Februari 2024.

Kompetisi, pertandingan atau perlombaan tidak hanya di dunia politik dan di dunia olah raga saja. Di dalam keseharian kita tidak jarang, memposisikan sesuatu hal yang sederhana menjadi suatu pertandingan. Sebagai contoh di jalan raya atau jalan umum, karena tidak mau terlambat atau mau lebih dulu tiba di sekolah, di kantor, ataupun di gereja. Berbagai macam cara kita pergunakan, menyalip motor atau mobil lain dengan ugal-ugalan, membunyikan klakson saat ada kemacetan, tidak memberikan kesempatan pada pengguna jalan lainnya Seperti pada pejalan kaki dan bahkan meneriaki pengendara lainnya dengan kata-kata kasar.
Terkadang hal-hal tersebut terjadi, dan bagi pelakunya tidak memikirkan apa yang dirasakan oleh orang lain. Mau menang sendiri, terserah apa yang dirasakan orang lain atau masa bodoh, yang penting tiba lebih dulu atau tidak terlambat, serta pembenaran-pembenaran lainnya.
Hari ini kita bersama-sama diingatkan dari kitab Matius 21:1-11 dengan judul perikop “Yesus dielu-elukan di Yerusalem.” Ketika Yesus dan murid-murid-Nya akan memasuki kota Yerusalem, Yesus menugaskan murid-muridnya untuk membawa keledai yang akan dikendarai-Nya. Pada ayat ke-5 tertulis, “Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”

Pada Minggu Palem itu, orang mungkin mengharapkan Yesus sebagai seorang Raja memasuki Yerusalem dengan menunggang kuda yang perkasa. Namun Dia malah memilih keledai yang hina. Dan pada di ayat ke-8 dikatakan, “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.” Dan lagi, banyak orang yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosana di tempat yang mahatinggi!”.
Pada Matius 21:1-11, Yesus dengan kelemah lembutan dan kerendahan-hatian-Nya, tetap mendapat perhatian, dukungan dan hormat dari banyak orang saat memasuki kota Yerusalem. Yesus tidak memerlukan kuda yang tinggi cukup dengan menunggangi keledai yang lebih pendek dari kuda.

Demikian halnya dengan kita murid-murid Yesus, hendaknya kita memiliki kelemah-lembutan dan kerendahan hati supaya kita terus menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita dan bukan merugikan orang lain. Kiranya juga bagi pemimpin dan bakal calon pemimpin bangsa Indonesia dapat meneladani gaya kepemimpinan Yesus, dengan menang tanpa merendahkan pada pesta demokrasi 2024 mendatang.
Dari bacaan kita hari ini, kita diajak untuk memahami bahwa kedatangan Yesus ke Yerusalem adalah penggenapan dari janji kedatangan Mesias yang rendah hati dan menang tanpa merendahkan. (IP)